Bahasan tentang perilaku dalam organisasi sangat penting. Dalam suatu organisasi bagaimanapun sederhana bentuknya, perlu ada proses manajemen. Dalam proses ini keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh orang. Mengapa demikian?. Karena yang membuat sistem, mekanisme, serta metoda tentang perencanaan, pelaksanaan, dan pengawas adalah orang yang berada dalam organisasi. Sering kali bagaimanapun bagusnya system dan mekanisme yang ditetapkan, kegagalan biasaanya terjadi pada kesalahan manusia.
Sangat menarik untuk melihat perilaku orang dalam suatu organisasi, dengan melihat salah satu aspek yaitu pribadi narsistik. Konsep dan istilah narsisisme atau narsisistik berawal dari mitologi Yunani kuno tentang seorang pemuda tampan yang bernama Narsisus. Narsisus adalah putra dewa sungai, Cephissus. Pada saat itu Echo, seorang dewi yang tidak bisa berbicara, jatuh cinta kepadanya. Namun Narcisus bertindak kejam dan menolak cinta Echo. Pada suatu hari, Narsisus melewati sebuah danau yang sangat bening airnya dan ia melihat pantulan dirinya sendiri. Ia sangat mengagumi dan jatuh cinta pada pantulan itu. Ia sangat ingin menjamah dan memiliki wajah yang dilihatnya, tapi setiap kali ia mengulurkan tangannya untuk meraih pantulan itu, bayangan itu kemudian menghilang. Narsisus tetap menunggu di tepi danau untuk mendapatkan bayangan yang menjadi obyek kekagumannya sampai ia mau menceburkan dirinya sendiri ke dalam danau dan akhirnya mati. Para dewa merasa kasihan padanya, sehingga Narsisus ditranformasikan menjadi tumbuhan berbunga yang diberi nama Narsisus. Mitologi ini digunakan dalam Psikologi pertama kalinya oleh Sigmund Freud (1856-1939) untuk menggambarkan individu-individu yang menunjukkan cinta diri yang berlebihan. Freud menamakan mereka : “The narsissists” dan pelakunya disebut individu narsisistik atau seorang narsisis.
Bagaimanakah Potret Perilaku Individu Narsisistik dalam Organisasi?
Menurut Freud individu narsisistik adalah mereka yang senang dikagumi, sangat independen dan tidak mudah didekati. Mereka adalah innovator dalam suatu organisasi dan sangat terpacu untuk memperoleh kekuasaan dan kejayaan. Mereka dikenal sebagai pemimpin yang penuh visi dan memiliki banyak pengikut. Namun demikian mereka juga memiliki kekurangan yaitu tidak mau menerima kritik, kurang empati, bukan pendengar yang baik, sulit dibimbing dan membimbing orang lain, dan memiliki jiwa kompetisi yang cenderung berlebih-lebihan. Dalam pekerjaan sehari-hari individu narsisistik menunjukkan prinsip-prinsip seperti:
? Saya dapat melakukan apa saja (Omnipotence)
? Saya dapat ditemui dimana saja (Omnipresence)
? Saya tahu segala sesuatu (Omniscience)
? Saya dikagumi dan dicintai semua orang
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Buss dan Chiodo (1991) perilaku sehari-hari individu-individu narsisistik dikategorikan dalam 8 kategori sebagai berikut:
? Perilaku narsisistik: bercermin dan berdandan secara konstan, memancing pujian orang lain, menanyakan persepsi orang lain tentang dirinya, selalu menonjolkan kinerja dan prestasinya, mencela kemampuan dan merendahkan prestasi orang lain, dan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain
? Perilaku eksibisionis: menjadi pusat perhatian dalam perkumpulan, menghamburkan uang untuk membuat orang lain kagum, berbicara keras-keras supaya orang lain mendengar, membantah demi menarik perhatian, dan suka memamerkan harta miliknya.
? Perilaku grandiose: mengharapkan orang lain untuk mengalah, menghindarkan diri dari orang yang dianggapnya lebih rendah, menyatakan betapa hebatnya dia, mengambil alih pimpinan rapat, menominasikan diri sebagai orang yang memiliki kekuasaan.
? Perilaku yang terpusat pada diri sendiri (self centered): membuat keputusan tanpa mengindahkan orang, memaksa orang lain untuk mendengarkan ceritanya tanpa mau mendengar cerita orang lain, tidak mau berbagi dengan orang lain, meminta orang lain untuk mengikuti jadwalnya.
? Perilaku entitlement: meminjam tanpa berniat mengembalikan, datang pada saat yang tidak tepat dan mengharapkan untuk dilayani, mengundang diri sendiri ke pesta, menggunakan milik orang lain tanpa meminta ijin dahulu, menuntut perlakuan istimewa yang bukan pada tempatnya.
? Perilaku ekspansif (self-aggrandizing): senang menonjolkan kekayaannya, hanya mau bersosialisasi dengan orang ternama dan berstatus tinggi, senang menunjukkan kesalahan orang lain, datang terlambat pada saat meeting untuk menunjukkan bahwa ia penting dan memukau.
? Perilaku yang tidak empatik: tidak menghiraukan perasaan orang lain, tidak berduka ketika orang lain mengalami musibah, tidak mau mendengar masalah yang dihadapi oleh orang lain, menginterupsi percakapan orang lain.
? Perilaku manipulatif: hanya mau melakukan kebaikan dengan pamrih, meminta orang lain untuk mengerjakan pekerjaannya dan perilaku manipulatif
Dari uraian diatas, apa yang dapat kita petik? Apakah orang yang memiliki pribadi narsistik tak dapat berada dalam suatu organisasi? Ternyata tidak, bagaimanapun dalam suatu keadaan tertentu, pribadi narsistik muncul dalam suatu organisasi. Yang perlu dilakukan oleh orang narsistik agar dapat menjadi bagian yang baik dari organisasi, yaitu dengan melakukan instropeksi diri karena terdapat banyak factor negatif yang menyulitkan kelancaran managemen. Akan tetapi ada faktor yang dapat dibuat positif, dengan wawasan dan kemauan, hingga dapat menjadi pribadi yang menjadi innovator dan penggerak jalannya organisasi.